• Biografi Tokoh Islam

    Kumpulan Biografi Para Tokoh Islam Ternama dan Sejarah Perkembangan Islam Dunia

  • Biografi Penemu Dunia

    Kumpulan Biografi Para Penemu Terkenal di Dunia dan Sejarah Pertama Penemuannya

  • Biografi Pahlawan Indonesia

    Kumpulan Biografi Para Pahlawan Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan Indonesia

Showing posts with label Bibi. Show all posts
Showing posts with label Bibi. Show all posts

Arwa binti Abdul Muthalib Bibi Rasulullah SAW

Arwa binti Abdul Muthalib Bibi Rasulullah SAWArwa binti Abdul Muthalib adalah bibi Rasulullah SAW. Ia adalah putri Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad. Arwa masuk Islam di Makkah dan turut hijrah ke Madinah. Sebelum masuk Islam, dia juga mendukung Nabi SAW. Disebutkan juga bahwa anaknya, Kalib bin Umair, masuk Islam di Darul Arqam bin Abu Al-Arqam Al-Makhzumi. Usai masuk Islam, Kalib mengunjungi ibunya, Arwa binti Abdul Muthalib, kemudian berkata, "Aku mengikuti Muhammad dan masuk Islam karena Allah."

"Sungguh benar jika kau mendukung dan membantu sepupumu Muhammad. Demi Allah, kalau saja kita mampu apa yang dilakukan oleh para lelaki itu mendukungnya, tentu kita akan mengikutinya dan membelanya," kata ibunya. "Lalu apa lagi yang menghalangimu untuk masuk Islam, dan mengikuti Muhammad. Padahal saudaramu Hamzah telah juga masuk Islam?" "Aku sedang melihat apa yang diperbuat oleh saudara-saudara perempuanku, kemudian aku akan menjadi salah seorang dari mereka." "Maka sesungguhnya aku memintamu karena Allah, agar kau mau datang pada Muhammad, masuk Islam, membenarkannya dan bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad sebagai utusan Allah," pinta Kalib.

Kemudian Arwa masuk Islam dan termasuk salah seorang yang mendukung Nabi SAW. Ia juga mengajak anaknya untuk menolong Rasulullah SAW dan mengerjakan apa yang diajarkan oleh beliau. Pernah suatu kali Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraiys bersikap keras hingga menyakiti Nabi SAW. Kalib bin Umair sengaja datang ke tempat Abu Jahal dan memukulnya dengan keras di kepalanya, kemudian orang-orang yang ada di sekitar Abu Jahal segera meringkusnya dan memegangnya kuat-kuat. Kemudian Abu Lahab mendekatinya hingga melepaskannya. Kemudian kejadian itu, mereka berkata kepada Arwa, "Apakah kau tidak melihat anakmu si Kalib itu sekarang menjadi kasar berdekatan dengan Muhammad?"

Arwa menjawab, "Aku melihat bahwa beberapa hari ini dia semakin baik setelah dia mengisi harinya dengan selalu membela sepupunya Muhammad. Sungguh Muhammad membawa ajaran yang benar dari sisi Allah." "Apakah kau juga telah menjadi pengikut Muhammad?" tanya mereka. "Benar," jawab Arwa. Kemudian sebagian mereka keluar menemui Abu Lahab dan memberi kabar tentang keislaman Arwa. Menerima kabar tersebut, Abu Lahab beranjak menemui Arwa dan berkata, "Sungguh mengherankan dirimu ini, hai Arwa. Mengapa kau menjadi pengikut Muhammad dan kau tinggalkan agama Abdul Muthalib?"

"Memang seperti itulah keadaannya," kata Arwa. "Maka cobalah kau dukung keponakanmu itu,bantu dan bela dirinya. Bila dia memberikan suatu ajaran, maka kau punya dua pilihan, apakah kau masuk ke dalam Islam bersamanya atau kau tetap memegang agamamu itu. Apabila dia yang benar, maka aku minta maaf karena telah memilih masuk ke dalam golongan keponakanmu Muhammad." "Kami mempunyai kekuasaan dan kekuatan besar di Arab yang secara bersama-sama menentang kedatangan agama baru," kata Abu Laha lalu beranjak pergi. Arwa begitu sedih dengan kematian Nabi SAW, hingga dia menulis puisi:

Wahai Rasulullah, bukankah kau harapan kami
Kehadiranmu bagi kami adalah kebaikan
Dan jangan kau biarkan menjadi kering
Setiap detak jantungku hanya mengingat Muhammad
Dan betapa kesedihan menahan rindu
Terkumpul dalam diriku setelah kau tiada, wahai Nabi.

Arwa binti Abdul Muthalib meninggal dunia sekitar tahun 15 Hijriyah.

Ummu Fadhl - Bibi Nabi Lubabah binti al-Harith

Ummu Fadhl - Bibi Nabi Lubabah binti al-HarithLubabah binti al-Harith (Bahasa Arab: لبابة بنت الحارث‎), sering disebut dengan Ummu Fadhl, adalah istri dari Abbas bin Abdul-Muththalib paman Nabi Muhammad. Ia adalah salah seorang sahabat nabi pada masa awal penyebaran Islam di Mekkah. Ummu Fadhl adalah salah satu dari empat wanita yang telah dinyatakan keimanannya oleh Muhammad. Nama lengkapnya ialah Lubabah binti al-Harith bin Huzn bin Bajir bin Hilaliyah. Ia masuk Islam sebelum hijrah, dan merupakan wanita pertama yang masuk Islam setelah Khadijah ummul mukminin, sebagaimana yang dituturkan oleh putranya Abdullah bin Abbas: "Aku dan Ibuku adalah termasuk orang-orang yang tertindas dari wanita dan anak-anak." Ummu Fadhl adalah seorang wanita beriman yang pemberani, yang bersama kaum muslimin turut memerangi dan membunuh Abu Lahab.

Suaminya Abbas bin Abdul-Muththalib (Arab: العباس بن عبد المطلب) (lahir 566 – wafat 653) adalah paman dan Sahabat dari Nabi Muhammad. Keturunan dari Abbas-lah yang menjadi golongan khalifah yang dikenal dengan nama Bani Abbasiyah yang pernah berkuasa di Baghdad. Abbas memiliki 5 orang keturunan, di antaranya adalah

Abdullah bin Abbas, yang kerap disebut pula Ibnu Abbas. Dia pernah menjadi gubernur di Basrah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia meninggal dan dikuburkan di Thaif, Arab Saudi.
Ubaidillah bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Yaman pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Madinah.
Fahdl bin Abbas, dikuburkan di Syam.
Qutsam bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Bahrain pada masa Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Samarkand
Ma'bad bin Abbas, pernah menjadi gubernur di Mekkah pada masa kekuasaan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan dikuburkan di Afrika

Ia menikah dengan Ummu al-Fadhl Lubab dan ayah dari Abdullah bin Abbas dan Fadl bin Abbas.
Ia dilahirkan hanya beberapa tahun sebelum keponakannya Muhammad, dan merupakan saudara termuda ayahnya Muhammad.
Melalui keturunan putranya Abdullah bin Abbas, Bani Abbasiyah mengambil klaim atas gelar khalifah.
Menurut sumber-sumber dari Sunni, ia tidak berbai'at kepada Abu Bakar sampai Ali bin Abi Thalib melakukannya.
Ia dimakamkan di Pemakaman al-Baqi di Madinah.
Ummu Fadl diklaim sebagai wanita kedua yang memeluk Islam, pada hari yang sama dengan sahabatnya Khadijah. Secara resmi, Abbas menerima Islam sesaat sebelum Pembebasan Mekkah, 20 tahun kemudian.

Fatimah binti Asad Ibu Angkat Rasulullah SAW

Fatimah binti Asad Ibu Ali bin Abi ThalibPada tahun ke-9 hijrah, Ummul Mukminin Khadijah pulang ke rahmatullahi menghadap ilahi. Rasulullah saw sangat sedih atas pemergian Khadijah, ini kerana Khadijah adalah orang yang paling banyak membantu perjuangan Rasulullah saw. Selepas Khadijah ra tiada tetapi 'Khadijah' lain yang membantu berjuang demi islam agar terus berkembang. Fatimah binti Asad Pengganti Khadijah dan Abu Thalib. Hal ini terbukti apabila Khadijah wafat dia meninggalkan seorang wanita yang setia menjaga Rasulullah saw. Dia ialah seorang wanita yang lembah-lembut, pandai serta mempunyai kedudukan yang tinggi melebihi wanita yang lain. Dia adalah wanita bernama Fatimah binti Asad.

Dia adalah Fatimah bint Asad ibn Hasyim ibn Abd Manaf. Beliau adalah istri dari Abu Thalib, paman Rasulullah SAW. Beliau juga merupakan ibu dari sepupu Rasulullah SAW dari Abu Thalib : Ali, Thalib, ‘Aqil, Ja’far, Ummu Hani, Jumanah dan Raythah. Beliaulah yang mengasuh secara langsung Rasulullah SAW selama beliau ada di rumah Abu Thalib bersama Ummu Aiman sebagai pembantu mereka. Fatimah bint Asad baru masuk islam setelah suaminya Abu Thalib meninggal.

Beliau berba’iat dengan Rasulullah SAW dan menjadi muslimah yang baik. Beliau ikut berhijrah ke Madinah dan setelah itu ikut berperan dan membantu Rasulullah SAW dalam perjuangannya dan peperangannya. Selain itu, beliau juga berperan besar dalam mendidik dan membesarkan putra putrinya yang kesemuanya merupakan orang-orang yang sangat berperan dalam perjuangan Rasulullah SAW.

Fatimah binti Asad merupakah isteri Abu Thalib bin Abdul Mutalib, ibu saudara dan pemimpin kaum muslimin. Fatimah binti Asad juga adalah ibu kepada Saidina Ali bin Abi Thalib Amirul Mukminin. Fatimah binti Asad pula menggantikan kedudukan dua insan yang Rasulullah saw sayangi Khadijah dan Abu Thalib selepas meninggal dunia. Hal ini berterusan sehingga Rasulullah saw berhijrah ke Madinah bersama-sama kaum muslimin yang lain. Imam Az-Zahabi berbicara tentang Fatimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manf bin Qushay. Selain ibu kepada Saidina Ali bin Abi Thalib adalah merupakan suami kepada Fatimah Az-Zahra anak perempuan Rasulullah saw merupakan wanita pertama suku Bani Hasyim yang pertama berhijrah ke Madinah.

Tentang keagungan wanita ini, Ibnu Said berkata:"Dia adalah wanita yang sangat solehah. Bahkan Nabi saw sering mengunjungi dan qailullah (berehat di sianghari) di rumahnya." Manakala mengenai waktu beliau meninggal dunia para ulama berselisih pendapat. Menurutnya Ibnu Hajar Fatimah bin Asad meninggal dunia sebelum hijrah Rasulullah saw. Namun pendapat yang lebih rajih, mengatakan beliau meninggal selepas hijrah kerana menyusul Rasulullah saw ke Madinah dan meninggal. Hal ini diperkuatkan ada pendapat Asy-Sya'bi mengatakan bahawa dia memeluk islam di Makkah kemudian berhijrah ke Madinah dan meninggal dunia.

Catatan terakhir tentang keagungan wanita ini jelas daripada hadis yang dikeluarkan Ibnu Abi Ashim daripada Abdullah bin Muhammad bin Umar bin Ali bin Abu Thalib daripada bapanya ketika meninggal dunia Rasulullah saw mengapankan jasad Fatimah binti Asad dengan bajunya. Dari ibn Abbas :”Ketika Fatimah bint Asad ibn Hasyim, ibunda Ali ibn Abi Thalib meninggal, Rasulullah SAW membuka bajunya dan mengkafani Fatimah bint Asad ibn Hasyim dan Rasulullah SAW berbaring di liang lahatnya, sesudah pemakaman selesai, para sahabat bertanya, wahai Rasulullah, Engkau melakukan sesuatu yang tidak pernah Engkau lakukan pada orang lain. Beliau menjawab : Aku memakaikannya bajuku supaya beliau memakai pakaian Ahli Surga dan aku berbaring di liang lahatnya dengan harapan dapat meringankan himpitan kuburnya, beliau termasuk orang yang sangat berjasa kepadaku sesudah Abu Thalib.”

Di riwayat yang lain Rasulullah SAW mendoakannya sesudah berbaring di liang lahatnya, “Allah yang menghidupkan dan mematikan, Dia-lah yang Maha Hidup dan tidak akan mati, ampunilah ibuku dan berilah hujjah baginya, lapangkanlah kuburnya, demi Nabi-Mu dan nabi-nabi sebelumku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” Beliau meninggal di Madinah. Ketika meninggal, Rasulullah SAW yang mengkafankannya, bahkan dengan menggunakan bajunya. Beliau juga yang ikut turun ke liang lahat bahkan sempat tiduran disisinya. Setelah keluar dari liang lahat, Rasulullah SAW terlihat menangis. Melihat hal yang di luar kebiasaan itu, Umar bertanya :

Wahai Rasulullah, kenapa kamu melakukan sesuatu yang tidak pernah engkau lakukan terhadap orang lain? Rasulullah SAW menjawab : Wahai Umar, perempuan ini di mataku adalah seperti ibu yang melahirkanku. Ketika Abu Thalib mencari nafkah, beliaulah yang menyiapkan makanan dan aku makan bersama mereka. Ketika para sahabat bertanya hal yang sama, Rasulullah SAW menjawab : Sesungguhnya, tidak ada orang yang berbuat lebih baik kepadaku setelah Abu Thalib dari dia. Aku pakaikan bajuku dengan harapan dia dipakaikan baju dari surga, aku tiduran di liang lahatnya dengan harapan dia diringankan dari azab kubur.

Oleh kerana itu Rasulullah saw tidak melupakan kebaikan Fatimah kepada Baginda dan anaknya Saidina Ali bin Abi Thalib. Dia sangat mengambil berat tentang menantunya, Fatimah binti Rasulullah saw dan membantu dalam urusan yang menjadi kewajipan seorang isteri. Dalam riwayat Al-Amasy daripada Amru bin Marah daripada Abu al-Bukhtari daripada Ali bahawa Ali berkata :Aku pernah berkata kepada ibuku, Cukuplah Fatimah sahaja yang mengambil air dan keluar apabila ada keperluan. Cukuplah bagi kamu untuk mengadun tepung untuk membuat roti." Oleh kerana kebaikannya itu, Saidina Ali (anaknya) pernah menegur agar jangan terlalu membantu Fatimah."

Semasa hidupnya, Fatimah binti Asad dikenali sebagai wanita yang mempunyai banyak pengetahuan agama dalam meriwayatkan hadis sebanyak 46 hadis. Dalam kitab Shahihain dia meriwayatkan satu hadis Muttafaq'alaih. Sebagaimana diketahui bahawa Fatimah binti Asad adalah wanita contoh penolong agama Allah sekaligus pendamping setia Rasulullah saw. Oleh kerana itu, wajarlah ketika meninggal Rasulullah saw berada bersamanya. Bahkan Baginda sendiri turun ke liang lahad untuk membaringkan jasad sucinya. Sehingga terpancar cahaya illahi dalam kuburnya dengan semerbak roh sucinya dan curahan rahmat Sang Pencipta, Allah SWT.

Ketika ada sahabat bertanya kepada Rasulullah saw,"Wahai Rasulullah kami belum pernah melihat kamu berbuat kepada seseorang seperti mana yang kamu lakukan pada wanita ini (Fatimah binti Asad)." Rasulullah saw menjawab,"Sesungguhnya tidak ada orang yang yang lebih baik kepadaku setelah Abu Thalib meninggal dunia selain dia." Begitulah Allah SWT memberikan keutamaan pada seseorang yang dikehendakiNya. Hanya Dia Pemilik Keutamaan Yang Paling Agung.