• Biografi Tokoh Islam

    Kumpulan Biografi Para Tokoh Islam Ternama dan Sejarah Perkembangan Islam Dunia

  • Biografi Penemu Dunia

    Kumpulan Biografi Para Penemu Terkenal di Dunia dan Sejarah Pertama Penemuannya

  • Biografi Pahlawan Indonesia

    Kumpulan Biografi Para Pahlawan Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan Indonesia

Showing posts with label Ulama Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Ulama Tafsir. Show all posts

Ulama Tafsir Muhammad Amin Asy-Syinqithi

Muhammad Amin Asy-Syinqithi - Tafsir Adhwa’ al-BayanMuhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar bin Abdul Qadir al-Jakni asy-Syinqithi -rahimahullah-. Jika terus diruntut, maka nasab Kabilah beliau akan sampai ke daerah Himyar di Yaman. Beliau -rahimahullah- dilahirkan di sebuah kota yang bernama Syinqith. Adapun nama tempat kelahiran beliau adalah Tanbah, sebuah desa di kota Syinqith, yang merupakan sebuah daerah di belahan timur dari Negara Islam yang sekarang terkenal dengan nama Mauritania. Yaitu sebuah Negara Islam di benua Afrika yang berbatasan dengan Sinegal, Mali, dan al-Jazair (Algeria).
Tepatnya, beliau -rahimahullah- dilahirkan pada tahun 1325 H (1905 M), dari seorang ibu sepupu ayahnya sendiri.

Syaikh Muhammad -rahimahullah- terdidik hingga besar di tengah masyarakat yang cinta akan ilmu, baik kaum laki-laki maupun wanitanya. Beliau menimba dasar-dasar ilmu agama dan ilmu al-Qur`an dari paman-paman beliau dari pihak ibunya, juga dari anak-anak mereka. Menghafal kitab-kitab merupakan santapan lezatnya sehari-hari. Beliau -rahimahullah- telah hafal al-Qur`an di bawah didikan pamannya, Abdullah, ketika berusia sepuluh tahun. Beliau -rahimahullah- bertutur, “Kemudian aku belajar menulis khat mushaf Utsmani (mushaf Induk) dari pamanku yang bernama Muhammad bin Ahmad. Darinya juga aku belajar ilmu Tajwid dengan bacaan Nafi’, yang meriwayatkan dari Warsy, dari jalan Abu Ya’qub al-Azraq dan Qalun, dari periwayatan Abu Nasyith. Dan darinya juga aku mengambil sanad bacaan itu hingga sampai kepada Nabi -shollallahu alaihi wa sallam-. Dan ketika itu, usiaku masih enam belas tahun”.

Beliau -rahimahullah- juga pernah berkata, “Di sela-sela proses belajar bacaan tersebut, aku juga belajar kitab-kitab ringkas fikih Imam Malik, seperti Rojaz Ibnu ‘Asyir. Dan di sela-selanya juga aku belajar sastra secara panjang lebar dari istri pamanku”. Ia melanjutkan, “Aku juga menimba dasar-dasar ilmu Nahwu, seperti kitab al-Ajurrumiyyah beserta latihan-latihannya, juga darinya. Aku pun belajar dengan panjang lebar tentang nasab-nasab bangsa arab, sejarah mereka, dan tak ketinggalan juga sejarah Nabi Muhammad -shollallahu alaihi wa sallam-, dan nazhom peperangan karya Ahmad al-Badawi asy-Syinqithi yang jumlah baitnya lebih dari lima ratus bait”. Seperti itulah semangat belajar beliau -rahimahullah- dalam mempelajari ilmu al-Qur`an, Sastra, Biografi, dan Sejarah. Dan semua itu beliau ambil dan timba dari rumah paman-pamannya. Beliau -rahimahullah- bertutur, “Setelah aku hafal al-Qur`an, sudah bisa menulis al-Qur`an dengan khat utsmani, dan aku mampu unggul di atas teman-temanku, maka ibu dan bibi-bibiku menaruh perhatian khusus kepadaku. Dengan tekad bulat mereka mengarahkanku untuk belajar disiplin ilmu yang ada”.

Setelah menceritakan tentang fikih madzhab Maliki yang beliau pelajari, juga kitab Alfiyyah Ibnu Malik dalam bidang ilmu nahwu, Beliau -rahimahullah- berkata, “Kemudian aku mengambil disiplin ilmu lainnya dari beberapa masyayikh pada beberapa cabang ilmu. Mereka semua berasal dari Kabilah al-Jakniyyun. Dan di antara mereka adalah para ulama terkenal di negeri itu. Mereka antara lain:
o Syaikh Muhammad bin Shalih, yang popular dengan sebutan Ibnu Ahmad al-Afram.
o Syaikh Ahmad al-Afram bin Muhammad al-Mukhtar.
o Syaikh, al-‘Allamah Ahma bin Umar.
o Pakar fikih terkemuka Muhammad an-Nikmat bin Zaidan.
o Pakar fikih terkemuka Ahmad bin Muud.
o Al-‘Allamah, lautan ilmu dalam bidang ilmu Ahmad Faal bin Aaduh.
o Dan masyayikh lainnya dari kabilah al-Jakniyyun –rahimahumullah-.
Beliau -rahimahullah- menambahkan, “Sungguh, kami telah menimba segala disiplin ilmu dari mereka, seperti Nahwu, Shorof, Ushul, Balaghah, serta sebagian Tafsir dan Hadits.
“Adapun ilmu Mantiq, tata cara membahas, serta berdiskusi dan berdebat, maka kami pelajari sendiri dari hasil menelaah kitab-kitab”, ungkap beliau.
Dan perlu digarisbawahi di sini, bahwa cabang-cabang ilmu yang beliau pelajari dari para masyayikh, atau yang beliau dapatkan dari hasil menelaah kitab-kitab sendiri, tidak hanya sebatas itu saja. Akan tetapi beliau juga senantiasa mengamati dan mencermati, serta melanjutkan belajarnya hingga keesokan hari pada setiap cabang ilmu yang ada, sehingga beliau benar-benar paham seluk beluk setiap bidang ilmu tersebut.

Kegiatan dan Aktifitas
Kegiatan dan aktifitas Syaikh Muhammad -rahimahullah- sama seperti kegiatan para ulama yang lain; belajar, mengajar, dan memberi fatwa. Hanya saja beliau v lebih terkenal dalam masalah hukum.
Meskipun ada seorang Hakim perancis, namun penduduk negeri itu begitu menaruhkan kepercayaan kepada beliau -rahimahullah-. Mereka datang kepada Syaikh -rahimahullah- untuk memutuskan perkara yang terjadi di antara mereka. Dan begitu banyak utusan-utusan dan tamu yang datang dari tempat yang jauh hanya untuk bertemu dengan beliau.

Safar ke luar Negeri
Sengaja beliau -rahimahullah- keluar negeri untuk melaksanakan kewajiban ibadah haji, dengan niatan ia akan kembali lagi ke negerinya seusai pelaksanaan ibadah haji tersebut.
Setelah Syaikh -rahimahullah- sampai ke negeri tujuannya, ternyata niatnya berubah. Ia ingin menetap sementara di sana. Sebabnya adalah, ketika berada di negerinya dahulu dia mendengar istilah Wahhabiyah, dan beliau ingin mengetahui tentang hakekat sebenarnya. Diantaranya juga, ketika menginap di beberapa tempat, secara kebetulan kemah beliau berdekatan dengan kemah al-Amir Khalid as-Sudairi, dan tatkala itu satu sama lain belum saling kenal. Adalah al-Amir pada waktu itu bersama teman duduknya mencari sebuah majlis yang mengajarkan sastra, sebab beliau begitu berjiwa sastrawan. Dan perbincangan yang terjadi diantara mereka menjadi panjang lebar, hingga akhirnya mereka bertanya-jawab dengan Syaikh -rahimahullah- yang ikut hadir juga pada waktu itu. Dan ternyata mereka telah mendapatkan seorang Syaikh yang alim bagaikan lautan yang tak bertepi. Al-Amir menasehatinya, ketika ia datang ke kota Madinah nanti, agar ia menemui dua orang Syaikh di sana; Syaikh Abdullah az-Zahim dan Syaikh Abdul Aziz bin Shalih.
Dan ternyata, di kota Madinah beliau -rahimahullah- berhasil bertemu dengan keduanya. Yang mana keduanya merupakan dua orang Hakim yang memutuskan kasus-kasus yang terjadi diantara penduduk kota, baik dalam masalah fikih, maupun masalah manhaj dan akidah.
Beliau -rahimahullah- begitu banyak berdiskusi dengan Syaikh Abdul Aziz bin Shalih. Hingga akhirnya Syaikh Abdu Aziz menghadiahkan kitab al-Mughni, dan beberapa kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah kepada beliau. Beliau -rahimahullah- pun membacanya hingga dapat memahami madzhab Imam Ahmad bin Hambal. Juga dapat mengetahui manhaj yang selamat dan akidah salaf yang bersandar kepada al-Qur`an dan as-Sunnah dengan pemahaman kaum salaf.

Syaikh -rahimahullah- dan Masjid Nabawi
Belajar-mengajar di masjid nabawi merupakan sarana transfer ilmu yang begitu penting di mata umat Islam dalam rangka menyebarkan ilmu agama. Masjid tersebut merupakan kampus pertama tempat disyariatkannya agama ini, yaitu sejak zaman Nabi -shollallahu alaihi wa sallam, ketika Jibril -alaihissalam- datang kepadanya untuk mengajarkan agama islam di majlis Rasulullah n. Dan sejak masa Khulafa’ ar-Rasyidin dan ulama dari kalangan sahabat, kota Madinah merupakan ibu kota ilmu, dan senantiasa kota itu akan menjadi markaz ilmiah yang tidak pernah kosong dari seorang alim yang menegakkan kebenaran pada setiap masanya.
Sebelum kedatangan Syaikh Muhammad al-Amin -rahimahullah- ke kota Madinah, adalah Syaikh ath-Thayyib -rahimahullah-, dengan perantara dirinya Allah berikan manfaat yang banyak kepada umat Islam di kota itu, hingga ia wafat pada tahun 1363 H. Adapun setelahnya, majlis Syaikh at-Thayyib digantikan oleh murid-muridnya, juga oleh Syaikh Muhammad -rahimahullah-. Dan Syaikh -rahimahullah- dahulu mengajar kitab tafsir al-Qur`an, dan sempat khatam hingga dua kali.
Termasuk hal yang sudah kita ketahui bersama bahwa pelajaran tafsir tidaklah terbatas pada sebuah pembahasan saja, akan tetapi pelajaran tafsir adalah ilmu yang mencakup seluruh isi al-Qur`an dan segala keumuman yang ada di dalamnya. Dan manhaj beliau dalam mengajar pertama kali adalah menjelaskan makna kosakata, kemudian menerangkan segi i’rabnya, ilmu shorofnya, kemudian balaghohnya dengan membawakan dalil-dalil penguat pada pembahasannya.

Di Masjid Syaikh Muhammad -rahimahullah-
Adapun di masjid Syaikh Muhammad -rahimahullah-, beliau mulai mengajar materi ushul fikih dan kaidah-kaidahnya. Banyak sekali orang-orang yang datang ke majlisnya untuk mengambil faedah dari beliau. Hingga orang-orang yang berasal dari ujung kota Riyadh pun rela datang ke sana demi untuk ikut serta dalam majlisnya itu.

Di Rumah Syaikh Muhammad -rahimahullah-
Oleh karena pelajaran Ushul di masjid bersifat untuk umum, maka para pelajar yang begitu semangat, mereka menginginkan adanya tambahan pelajaran khusus yang diadakan di rumah Syaikh Muhammad -rahimahullah-. Dan Syaikh pun akhirnya menjawab permintaan mereka dan membuka majlis khusus di rumahnya setelah shalat ashar.

Karya dan Tulisan
Syaikh Muhammad al-Amin -rahimahullah- memiliki karya dan tulisan yang begitu banyak, diantaranya adalah:
• Adhwa’ al-Bayan Fi Idhahi al-Qur`an bi al-Qur`an. Merupakan sebuah kitab yang berisi penafsiran al-Qur`an dengan al-Qur`an. Dan kitab ini merupakan kitab beliau yang paling terkenal.
• Mudzakkirah al-Ushul ‘Ala Raudhah an-Nazhir. Beliau padukan di dalamnya ushul-ushul madzhab Hambali, Maliki, kemudian asy-Syafi’i.
• Adab al-Bahts wa al-Munazhoroh. Di dalamnya beliau terangkan tata cara membahas, seperti pengumpulan masalah dan penjelasan dalil-dalil.
• Daf’u Iham al-Idhthirab ‘An Ayi al-Kitab. Beliau jelaskan di dalamnya ayat-ayat al-Qur`an yang secara zhahirnya memiliki makna yang bertentangan namun secara hakekatnya sama sekali tidak bertentangan. Beliau bawakan di dalamnya ayat-ayat yang secara sekilas bertentangan mulai dari surat al-Baqarah hingga surat an-Naas. Dan beliau dudukan permasalahannya satu demi satu secara berurutan.
• Man’u Jawaz al-Majaz Fi al-Munazzal Li at-Ta’abbud wa al-‘Ijaz. Beliau menerangkan dan membantah habis adanya majaz dalam al-Qur`an, dalam ayat-ayat asma dan sifat Allah.
Beliau -rahimahullah- juga memiliki beberapa ceramah yang kemudian dicetak dan disebarluaskan dalam bentuk buku, seperti:
– Ayat ash-Shifaat.
– Hikmah at-Tasyri’.
– Al-Mashalih al-Mursalah.
– Haula Syubhah ar-Raqiq.

Wafat
Beliau -rahimahullah- meninggal dunia di kota Madinah an-Nabawiyyah, pada tanggal 17 Dzul Hijjah, tahun 1393 H (1973 M), semoga Allah senantiasa merahmatinya.
Semoga Allah memberikan manfaat kepada kita dengan kitab-kitab beliau, menuntun kita untuk meniti dan meneladani jalan beliau pada apa-apa yang Ia ridhai, dan menjadikan kita termasuk para penuntut ilmu yang selalu ikhlas dalam menuntut ilmu dan beramal. Amin.

[Di ringkas oleh Abu Musa Muhammad Sulhan, Lc. dari Biografi Syaikh Muhammad al-Amin -rahimahullah-, karya Athiyyah Muhammad Salim, pada permulaan kitab Adwa’ al-Bayan Fi Idhah al-Qur`an bi al-Qur`an, Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, Cet. Pertama, Th. 1417 H. – 1996 M.]

As-Si'di - Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di

As-Si'di - Abdurrahman bin Nashir As-Sa'diAs-Sa'di atau As-Si'di (1889–1956 M) adalah seorang Ulama Ahlussunnah, Ahli bahasa Arab, Ahli Fiqih dan Ahli Tafsir, Syaikh yang terkenal dengan kitab tafsir Al-Qur'annya yang ringan dan mudah bagi tingkat pemula, yaitu Taisir Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan yang lebih dikenal sebagai Tafsir As-Sa'di.

Nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Abdurrahman bin Naashir bin Abdullah bin Nashir As Sa’di dari Bani Tamim. Dilahirkan pada 12 Muharram 1307 H / 1886 M, di kota Unaizah, Qosim. Dia menjadi yatim piatu pada usia tujuh tahun, menghapalkan Al Qur'an dan menguasai ilmu qira’ah sebelum berusia sebelas tahun. Kemudian mendedikasikan umurnya untuk menuntut ilmu dari para ulama yang berada di kotanya dan kemudian mengajar hingga wafatnya karena sakit pada 24 Jumadits Tsani 1376 H / 1956 M.

Di antaraguru-gurunya yang terkenal adlah:

Ibrahim bin Hamd bin Jasir, yang merupakan guru pertama As-Sa'di.
Muhammad bin Abdul Kariim Asy Syibl
Shalih bin Utsman, qadhi (hakim) kota Unaizah, As-Sa'di menimba ilmu kepadanya ilmu Fiqh, Ushul Fiqih, Akidah Tauhid, Tafsir, Al Qawaid Lughah (Gramatika Arab) dan Al Balaghah (dasar-dasar sastra Arab). As-Sa'di menuntut ilmu dan terus mendampingi gurunya ini hingga gurunya wafat.
Muhammad Asy-Syinqithi, yang tinggal di Hijaz, yang merupakan penulis Tafsir Al-Qur'an Adhwaul Bayan. dll.

Dia memiliki banyak murid, dan yang paling terkenal adalah:

Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
Abdullah bin Abdul Aziz bin Aqil, yang kemudian menjadi anggota Hai’ah Ad Daimah bi Majalisil Qadhail A’la.

Karya-Karyanya Di antarakarya tulisnya adalah:

Taisir Karimirrahman fit Tafsiri Kalamil Mannan, sebuah kitab tafsir Al-Quran sebanyak delapan jilid.
Al-Qawaidul Hisan lit Tafsiril Qur’an, sebuah kitab yang membahas tentang kaidah-kaidah dalam menafsirkan Al Qur’an.
Al-Qaulus Sadid fi Maqasidit Tauhid, merupakan kitab penjelasan tentang Tauhid.
Bahjahtu Qulubil Abrar wa Qurratu Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’ul Akhbar, sebuah kitab syarah dari 99 Hadits Pilihan.
Al-Qawa'id wa Al-Ushul al-Jami'ah wa Al-Furuq wa At-Taqasim al-Badi'ah an-Naafi'ah, kitab penjelasan tentang kaidah-kaidah dalam Ushul Fiqih
Al-Adillati wal Qawathi’ wal Baraahin fi Ibthali Ushulul Mulhidin
Al-Irsyad ila Ma’rifatil Ahkam
Intisharul Haq
At-Ta’liq wa Kasyfun Niqaab ala Nizhami Qawaidul I’rab
Taudhih Al Kaafiyah Asy Syafiyah
Taudhihu wal Bayaan li Sajaratil Iman
Haasyiyah Fiqhiyah
Diiwan Khutab
Tanzihuddin
Radd ala Al Qasimi
Al-Haqq Al Wadhih Al Mubayyin
Hukmu Syarbud Dukhan
Risalah fi Qawaid Al Fiqhiyyah
Al-Fatawa As Sa’diiyah
Al-Wasaailul Mufiidah lil Hayatis Sa’idah
Ad-Durar Al-Mukhtasharah fii Mahaasin Al-Islaam
Minhajus Salikin fit Taudhihil Fiqhi fid Diin
Ar-Riyadh An Nadhirah,
Al-Durrat Al-Fakhira, (The Exquisite Pearl) ISBN 0-9542166-0-1
dan puluhan kitab lainnya.

Rujukan

^ Tarjumah Asy Syaikh As Sa’di dalam Maktabah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di, e-book diterbitkan oleh Mauqi’ Ruuhul Islam di http://www.islamspirit.com
^ Kitab Al Wasail Al Mufidah Lil Hayati As Sa’idah, 1425 Hijriyah.

Ibnu Katsir Ulama Tafsir dan Pemikir Muslim

Ibnu Katsir Ulama Tafsir dan Pemikir MuslimIbnu Katsir atau Ismail bin Katsir (Arab: إسماعيل بن كثير‎) (gelar lengkapnya Ismail bin Umar Al-Quraisyi bin Katsir Al-Bashri Ad-Dimasyqi, Imaduddin Abu Al-Fida Al-Hafizh Al-Muhaddits Asy-Syafi'i) adalah seorang pemikir dan ulama Muslim. Namanya lebih dikenal sebagai Ibnu Katsir. Ia lahir pada tahun 1301 M di Busra, Suriah dan wafat pada tahun 1372 M di Damaskus, Suriah. Tercatat guru pertama Ibnu Katsir adalah Burhanuddin al-Fazari, seorang ulama penganut mazhab Syafi'i. Ia juga berguru kepada Ibnu Taymiyyah di Damaskus, Suriah, dan kepada Ibnu al-Qayyim.

Ia mendapat arahan dari ahli hadis terkemuka di Suriah, Jamaluddin al-Mizzi, yang di kemudian hari menjadi mertuanya. Ia pun sempat mendengar langsung hadis dari ulama-ulama Hejaz serta memperoleh ijazah dari Al-Wani. Tahun 1366, oleh Gubernur Mankali Bugha Ibnu Katsir diangkat menjadi guru besar di Masjid Ummayah Damaskus. Ulama ini meninggal dunia tidak lama setelah ia menyusun kitab Al-Ijtihad fi Talab al-Jihad (Ijtihad Dalam Mencari Jihad) dan dikebumikan di samping makam gurunya, Ibnu Taimiyah. Ibnu Katsir menulis tafsir Qur'an yang terkenal yang bernama Tafsir Ibnu Katsir. Hingga kini, tafsir Alquran al-Karim sebanyak 10 jilid ini masih menjadi bahan rujukan dalam dunia Islam. Di samping itu, ia juga menulis buku Fada'il Alquran (Keutamaan Alquran), berisi ringkasan sejarah Alquran.

Dalam ilmu fiqih, Ibnu Katsir juga tidak diragukan keahliannya. Oleh para penguasa, ia kerap dimintakan pendapat menyangkut persoalan-persoalan tata pemerintahan dan kemasyarakat yang terjadi kala itu. Misalnya saja saat pengesahan keputusan tentang pemberantasan korupsi tahun 1358 serta upaya rekonsiliasi setelah perang saudara atau peristiwa Pemberontakan Baydamur (1361) dan dalam menyerukan jihad (1368-1369). Selain itu, ia menulis buku terkait bidang fiqih didasarkan pada Alquran dan hadis.

Kitab sejarahnya yang dianggap paling penting dan terkenal adalah Al-Bidayah. Ada dua bagian besar sejarah yang tertuang menurut buku tersebut, yakni sejarah kuno yang menuturkan mulai dari riwayat penciptaan hingga masa kenabian Rasulullah SAW dan sejarah Islam mulai dari periode dakwah Nabi ke Makkah hingga pertengahan abad ke-8 H. Kejadian yang berlangsung setelah hijrah disusun berdasarkan tahun kejadian tersebut. Tercatat, kitab Al-Bidayah wa an-Nihayah merupakan sumber primer terutama untuk sejarah Dinasti Mamluk di Mesir. Dan karenanya kitab ini seringkali dijadikan bahan rujukan dalam penulisan sejarah Islam.

Ibnu Abi Syaibah - Abu Bakar bin Abi Syaibah

Ibnu Abi Syaibah - Abu Bakar bin Abi SyaibahIbnu Abi Syaibah atau Abu Bakar bin Abi Syaibah bernama Abdullah bin Muhammad bin Al-Qadli Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman bin Kuwasta. Ia seorang imam yang alim, pemimpin para hafidh, penulis kitab-kitab besar seperti Al-Musnad, Al-Mushannaf, dan At-Tafsir. Kunyahnya adalah Abu bakr Al-‘Absi. Lahir tahun 159 H/775 M. Saudara dia, ‘Utsman bin Abi Syaibah dan Al-Qasim bin Abi Syaibah Adl-Dla’if. Al-Hafidh Ibrahim bin Abi Bakr adalah anak dia. Al-Hafidh Abu Ja’far Muhammad bin ‘Utsman adalah kemenakan dia. Mereka semua adalah perbendaharaan ilmu. Abu Bakr (Ibnu Abi Syaibah) yang paling terhormat di kalangan mereka.

Dia termasuk aqran (yang berdekatan secara umur dan isnad) Imam Ahmad, Ishaq bin Rahawaih, Ali bin Al-Madini dari sisi umur, kelahiran, dan hapalannya. Yahya bin Ma’in adalah yang paling tua beberapa tahun di antara mereka. Dia menuntut ilmu sejak masih kecil. Guru dia yang paling tua adalah Syarik bin Abdillah Al-Qadli. Banyak murid-murid dia yang mendengar hadits dari dia, di antaranya adalah :

Abul-Ahwash Sallam bin Sulaim.
Abdus-Salam bin Harb.
Abdullah bin Mubarak.
Jarir bin Abdil Hamid.
Abul-Khalid Al-Ahmar.
Sufyan bin ‘Uyainah.
Ali bin Mushir.
Ibad bin Awwam.
Abdullah bin Idris.
Khalaf bin Khalifah (ada yang menyatakan bahwa ia seorang tabi’i).
Abdul-‘Aziz bin Abdish-Shamad Al-‘Amiyyi.
Umar bin ‘Ubaid Ath-Thanafisi dan dua orang saudaranya yaitu :
Muhammad.
Ya’la.
Ali bin Hasyim Al-barid.
Husyaim bin basyir.
Abdul-A’la bin Abdil-A’la.
Waki’ bin Al-Jarrah.
Yahya Al-Qathhan.
Isma’il bin ‘Iyasy.
Abdurrahim bin Sulaiman.
Abu Mu’awiyyah.
Yazid bin Al-Miqdam.
Marhum Al-‘Athar

Dia adalah lautan ilmu dan dijadikan contoh dalam kekuatan hapalannya. Di antara yang meriwayatkan hadits dari dia adalah Syaikhain (Bukhari dan Muslim), Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’I, dan para rekan dia. Namun At-Tirmidzi tidak meriwayatkan dalam Jami’-nya. Demikian pula Muhammad bin Sa’ad Al-Khathib, Muhammad bin Yahya, Ahmad bin Hanbal, Abu Zur’ah, Abu Bakar bin Abi ‘Ashim, Baqiyyu bin Makhlad, Muhammad bin Wadlah – seorang muhaddits dari negeri Andalus - , Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya’la Al-Maushuli, dan lain-lain.

Karya-karya dia antara lain adalah :

Al-Mushannaf.
At-Tarikh. Kitab ini ada di Berlin dengan nomor perpustakaan 9409.
Kitaabul-Iimaan.
Kitaabul-‘Adab.
Tafsir Ibnu Abi Syaibah.
Kitaabul-Ahkaam.
Kitaab Tsawaabul-Qur’an.
Kitaabul-Jumal.
Kitaabur-Radd ‘alaa Man Radda ‘alaa Abi Hanifah.
Kitaabul-Futuh.
Al-Musnad.

Dia wafat, kata Imam Bukhari, pada bulan Muharram tahun 235 H/ 849 M.

Ikrimah Tabi'in Bekas Budak jadi Pakar Tafsir

Ikrimah Bekas Budak yang Menjadi Pakar TafsirIkrimah Al Qurosyi Al Hasyimi adalah bekas budak Ibnu ‘Abbas. Nama kunyah beliau adalah Abu ‘Abdillah yang berasal dari Barbar, penduduk Maghrib. Beliau termasuk golongan tabi’in pertengahan merupakan seorang pakar tafsir terkemuka. ‘Ikrimah memiliki sanad dari Ibnu ‘Amr, Ibnu ‘Abbas, Abu Sa’id, Abu Hurairah, Al Husain bin ‘Ali dan ‘Aisyah. Dari Kholid As Sikhtiyani, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Aku telah bertemu dengan ratusan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid ini (Masjid Nabawi).”

Ketika sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- meninggal dunia ‘Ikrimah masih menjadi seorang budak. Lalu Kholid bin Yazid bin Mu’awiyah membelinya dari ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas (anak Ibnu ‘Abbas). Kholid membelinya seharga 4000 dinar. Kemudian berita ini pun sampai pada ‘Ikrimah. Lantas ‘Ikrimah bersegera mendatangi ‘Ali –anak Ibnu ‘Abbas-, lalu berkata, “Apakah engkau menjual ilmu ayahmu sebesar 4000 dinar?” Kemudian ‘Ali menyerahkan ‘Ikrimah pada Kholid. Kholid pun akhirnya memerdekakan ‘Ikrimah.

‘Ikrimah belajar dengan Ibnu ‘Abbas. Agar mau belajar Al Qur’an dan hadits, ‘Ikrimah dipaksa oleh Ibnu ‘Abbas dengan cara kakinya diikat. Dari Az Zubair bin Al Khirrit –seorang tabi’in junior-, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Ibnu ‘Abbas membelenggu kakiku, lalu beliau mengajariku Al Qur’an dan hadits Nabi.”

Dari Jabir bin Zaid –seorang tabi’in-, beliau mengatakan, “’Ikrimah adalah bekas budak Ibnu ‘Abbas. Dia adalah orang yang paling berilmu di antara manusia saat ini.” Asy Sya’bi –seorang tabi’in- mengatakan, “Tidak ada manusia yang lebih memahami Kitabullah (Al Qur’an) selain ‘Ikrimah.” Qotadah As Sadusi –seorang tabi’in- mengatakan, “Orang yang paling memahami tafsir di antara manusia saat ini adalah ‘Ikrimah.”

Nasehat Berharga dari ‘Ikrimah : Beliau memiliki nasehat agar kita bisa memiliki akhlaq yang mulia karena akhlaq mulia adalah landasan Islam. Ibrahim mengatakan dari ayahnya bahwa ‘Ikrimah berkata, لِكُلِّ شَيْءٍ أَسَاسٌ، وَأَسَاسُ الإِسْلاَمِ الخُلْقُ الحَسَنُ. “Segala sesuatu memiliki landasan (asas). Sedangkan asas Islam adalah husnul khuluq (akhlaq yang luhur).”

Wafat Beliau ‘Ikrimah meninggal dunia di Madinah dalam usia 80 tahun. Beliau meninggal tahun 104 H. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau meninggal tahun 105, 106, atau 107 H. Ketika beliau meninggal dunia, manusia pun mengatakan, “Orang yang paling faqih dan paling berilmu telah meninggal dunia.” [Diolah dari Shifatush Shofwah, Ibnul Jauziy, 2/103-105, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1399 H]




Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/700-ikrimah-bekas-budak-yang-menjadi-pakar-tafsir.html