• Biografi Tokoh Islam

    Kumpulan Biografi Para Tokoh Islam Ternama dan Sejarah Perkembangan Islam Dunia

  • Biografi Penemu Dunia

    Kumpulan Biografi Para Penemu Terkenal di Dunia dan Sejarah Pertama Penemuannya

  • Biografi Pahlawan Indonesia

    Kumpulan Biografi Para Pahlawan Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan Indonesia

Showing posts with label Tabi'in. Show all posts
Showing posts with label Tabi'in. Show all posts

Khalaf bin Khalifah - Tokoh Tabi'in Terakhir Wafat

Biografi Khalaf bin Khalifah - Tokoh Tabi'in Terakhir WafatTabi'in yang paling akhir wafatnya ialah Khalaf bin Khalifah (wafat tahun 181 Hijriyah), karena ia sempat berjumpa dengan Abu Tufail di Makkah. Dengan demikian, periode tabi'in berakhir tahun 181 Hijriyah bersamaan dengan masa pemerintahan Harun ar-Rasyid (170-194 Hijriyah) dari Bani Abbas.

Secara kebahasaan, tabiin merupakan bentuk jamak dari tabi' artinya yang mengikuti. Orang-orang atau orang-orang Islam yang pernah berjumpa dengan sahabat Nabi Muhammad SAW dan meninggal dalam keadaan iman.

Menurut Al-Khatib al Baghdadi (sejarawan dari Baghdad yang hidup pada abad ke-4 hijriyah), seorang muslim dapat dikatakan sebagai tabiin jika pernah bersahabat Nabi SAW, jadi bukan sekedar pernah berjumpa saja. Para ulama ahli hadis membagi generasi tabiin ini dalam beberapa tingkatan (tabaqat) berdasarkan kualitas sahabat yang pernah dijumpainya.

Ibnu Sa'ad, misalnya, mengelompokkan tabiin dalam 4 tabaqat, sedangkan Al-Hakim mengelompokannya dalam 15 tabaqat. pengelompokkan tabaqat tabiin sangat relatif dan lebih sulit serta berbeda pengelompokkan tabaqat sahabat yang didasarkan atas keikut sertaannya pada peristiwa peristiwa penting yang dialami Rasulullah SAW.

Untuk tabaqat pertama, para ulama sepakat memberi batasan bahwa mereka adalah tabi'in yang pernah berjumpa dan bersahabat dengan sepuluh sahabat yang dijanjikan Rasulullah SAW akan masuk surga. Mereka itu adalah Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Sa'id bin Abi Waqqas, Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail, Talhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf dan Abu Ubaidah bin al-Jarrah.

Mereka yang dipandang sebagai tabi'in tabaqat pertama di antaranya Abu Usman an-Nahdi, Qais bin Abbad, Abu Husain bin Munzir, Abu Wa'il dan Abu Raja' at-Taridi. Tabi'in yang diketahui paling dulu meninggal adalah Abu Zaid Ma'mar bin Zaid (wafat tahun 30 Hijriyah).

Tabaqat Tabi-in yang paling akhir, menurut pandangan al-Hakim, ialah tabi'in yang sempat berjumpa atau melihat sahabat paling akhir dan menyaksikan wafatnya sahabat tersebut (man laqiya akhiras shahabata mautan (siapa yang melihat/menyaksikan paling akhir wafatnya seorang sahabat). Mereka yang termasuk tabi'in tabaqat terakhir ialah tabi'in yang berjumpa dengan Abu Tufail Amir bin Wa'ilah di Mekah yang berjumpa dengan as-Saib di Madinah yang berjumpa dengan Abu Umamah di Syam (Suriah) yang berjumpa dengan Ubaidilah bin Abi Aufa di Kufah yang berjumpa dengan Anas bin Malik di Basra dan berjumpa dengan Abdullah az-Zubaidi di Mesir.

Tabi'in yang paling akhir wafatnya ialah Khalaf bin Khalifah (wafat tahun 181 Hijriyah), karena ia sempat berjumpa dengan Abu Tufail di Makkah. Dengan demikian, periode tabi'in berakhir tahun 181 Hijriyah bersamaan dengan masa pemerintahan Harun ar-Rasyid (170-194 Hijriyah) dari Bani Abbas.

Di antara tabi'in yang mempunyai peran besar dalam pengembangan ilmu agama Islam ialah Sa'id bin Musayyab, Nafi' Maula bin Amr, Muhammad bin Sirin, Ibnu Syihab az-Zuhri, Sa'id bin Zubair al-Asadi al-Kufi dan Nu'man bin Sabit. Sa'id bin Musayyab lahir pada tahun 15 Hijriyah, tahun kedua pada pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab dan wafat pada tahun 94 Hijriyah. Ayah dan kakeknya adalah sahabat Nabi Muhammad SAW. Ia terkenal karena kewarakan, kezuhudan dan keluasan ilmu pengetahuan di bidang hadis dan fikih.

Nafi' Maula bin Amr (wafat 117 Hijriyah) pada mulanya adalah hamba Ibnu Umar yang mengabdi kepada majikannya selama tiga tahun sebelum dimerdekakan. Imam Malik bin Anas adalah sahabat dekat Nafi'. Imam Malik berkata, ''Jika aku menerima hadis dari Nafi' dari Ibnu Umar, aku tidak perlu mendengarnya lagi dari orang lain.'' Dengan demikian, Imam Malik yakin betul dengan setiap hadis yang diriwayatkan Nafi'. Ia juga dikenal sebagai rawi (periwayat) hadis dan ulama fikih Madinah.

Muhammad bin Sirin adalah anak seorang maula (hamba yang kemudian) dimerdekakan) Anas bin Malik. Ia lahir dua tahun sebelum berakhirnya pemerintahan Usman bin Affan (32 Hijriyah) dan wafat pada tahun 110 Hijiyah. Ia termasuk ulama fikih di Madinah di samping rawi hadis yang dipercaya.

Ibrahim an Nakha’iy atau Abu Imran bin Yazid

Ibrahim an Nakha’iy atau Abu Imran bin YazidIbrahim an Nakha’iy atau Abu Imran Ibrahim bin Yazid bin Qais an Nakha’iy al Kufy, beliau seorang ulama fiqh di Kufah dan seorang Tabi’in yang mulia. Beliau sering menemui Aisyah, tetapi tidak ada keterangan yang menyatakan bahwa ia menerima hadits dari Aisyah. Ia menerima hadits dari ulama ulama tabi’in diantaranya adalah Iqamah, al Aswad, Abdurahman, Masruq dan lain lainnya. Hadits haditsnya diriwayatkan dari segolongan tabi’in, diantaranya adalah Abu Ishaq as Subai’iy, Habib bin Abi Tsabit, Samak bin Harb, al A’masy dan Hammad bin Abu Sulaiman gurunya Abu Hanifah.

Ibrahim an Nakha'i walaupun tidak meriwayatkan hadits dari seorang sahabat padahal ia menemui segolongan dari mereka. Namaun ia mempunyai kedudukan yang tinggi dalam bidang hadits dan dalam bidang ilmu riwayat. Seluruh ulama sepakat menyatakan bahwa ia adalah seorang yang tsiqah dan seorang ahli dalam bidang fiqh. Asy Sya’by pernah berkata,” Tidak ada seorangpun yang masih hidup yang lebih alim dari pada Ibrahim, walaupun al Hasan dan Ibnu Sirin”. Az Zuhrah pernah berkata,” an Nakha’iy adalah salah seorang ulama terkenal”. Ia wafat pada tahun 96 H

Ibrahim An-Nakh'iy berguru kepada banyak Imam-imam dan Syaikhul Islam terkemuka. Guru-guru Beliau antara lain:
-Masyruq
-Alqomah bin Qois
-Ubaidah As-Salmani
-Abu Zur’ah
-Al-Bajali
-Khoitsamah bin `Abdurrahman
-Ar-Rabi’ bin Khutsaim
-Abu Sya’tsa’ Al Muharibi
-Sahm bin Minjab
-Suwaid bin Ghoflah
-Al-Qodli Suraih
-Suraih bin Arthah
-Abu Ma`mar `Abdullôh bin Sakhbar
-Ubaid bin Nadlolah
-`Umaroh bin `Umair
-Abu `Ubaidah bin `Abdullôh
-Abu `Abdurrohman As-Sulami
-`Abdurrohman bin Yazid
-Hammam bin Al-Harits dan beberapa guru dari kalangan kibaruttabi’in.

Karena kealiman dan kefaqihan Beliau sebagai Guru besar, Beliau telah berhasil mendidik banyak murid-murid yang tidak kalah hebatnya dengan kealiman dan kefaqihan Beliau Dalam memiliki wawasan ilmu pengetahuan. Murid-murid hebat Beliau antara lain :

-Al-Hakam bin Utaibah
-`Amru bin Murrah
-Hammad bin Abi Sulaiman
-Simak bin Harb
-Mughirah bin Miqsam
-Abu Ma’syar bin Ziyad bin Kulaib
-Abu Husain
-`Utsman bin `Ashim
-Manshur bin Mu’tamar
-`Ubaidah bin Muattib
-Ibrohim bin Muhajir
-Al-Harits Al-Uklai
-Sulaiman Al-A’masi
-Ibn `Aun
-Atho’ bin Saib
-Abdurrohman bin Sya’tsa’
- 'Abdurrohman bin Syubromah
-Ali bin Mudrak
-Fudhoil bin `Amru
-Washil bin Hayyan
-Zubaid Al-Yami
-Muhammad Al-Kholid
-Muhammad bin Suqoh
-Yazid bin Abi Ziyad.

Abu Imran, Ibrahim ibn Yazid ibn al-Aswad ibn Amr ibn Rabia 'ibn Haritha ibn Sa'd ibn Malik ibn an-Nakha , juga dikenal sebagai Ibrahim al-Nakha'i (670-71 M / 50-96 H), [ 1] adalah seorang teolog terkenal, ahli hukum dan cendekiawan Islam yang lahir pada tahun 670. Dia bertemu banyak sahabat Muhammad termasuk, Anas bin Malik dan Aisha binti Abu Bakar . Meskipun dilaporkan bahwa dia bertemu yang terakhir, tidak ada laporan dia mengirimkan sesuatu darinya.

Ikrimah Tabi'in Bekas Budak jadi Pakar Tafsir

Ikrimah Bekas Budak yang Menjadi Pakar TafsirIkrimah Al Qurosyi Al Hasyimi adalah bekas budak Ibnu ‘Abbas. Nama kunyah beliau adalah Abu ‘Abdillah yang berasal dari Barbar, penduduk Maghrib. Beliau termasuk golongan tabi’in pertengahan merupakan seorang pakar tafsir terkemuka. ‘Ikrimah memiliki sanad dari Ibnu ‘Amr, Ibnu ‘Abbas, Abu Sa’id, Abu Hurairah, Al Husain bin ‘Ali dan ‘Aisyah. Dari Kholid As Sikhtiyani, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Aku telah bertemu dengan ratusan sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masjid ini (Masjid Nabawi).”

Ketika sahabat yang mulia Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- meninggal dunia ‘Ikrimah masih menjadi seorang budak. Lalu Kholid bin Yazid bin Mu’awiyah membelinya dari ‘Ali bin ‘Abdullah bin ‘Abbas (anak Ibnu ‘Abbas). Kholid membelinya seharga 4000 dinar. Kemudian berita ini pun sampai pada ‘Ikrimah. Lantas ‘Ikrimah bersegera mendatangi ‘Ali –anak Ibnu ‘Abbas-, lalu berkata, “Apakah engkau menjual ilmu ayahmu sebesar 4000 dinar?” Kemudian ‘Ali menyerahkan ‘Ikrimah pada Kholid. Kholid pun akhirnya memerdekakan ‘Ikrimah.

‘Ikrimah belajar dengan Ibnu ‘Abbas. Agar mau belajar Al Qur’an dan hadits, ‘Ikrimah dipaksa oleh Ibnu ‘Abbas dengan cara kakinya diikat. Dari Az Zubair bin Al Khirrit –seorang tabi’in junior-, dari ‘Ikrimah, beliau mengatakan, “Ibnu ‘Abbas membelenggu kakiku, lalu beliau mengajariku Al Qur’an dan hadits Nabi.”

Dari Jabir bin Zaid –seorang tabi’in-, beliau mengatakan, “’Ikrimah adalah bekas budak Ibnu ‘Abbas. Dia adalah orang yang paling berilmu di antara manusia saat ini.” Asy Sya’bi –seorang tabi’in- mengatakan, “Tidak ada manusia yang lebih memahami Kitabullah (Al Qur’an) selain ‘Ikrimah.” Qotadah As Sadusi –seorang tabi’in- mengatakan, “Orang yang paling memahami tafsir di antara manusia saat ini adalah ‘Ikrimah.”

Nasehat Berharga dari ‘Ikrimah : Beliau memiliki nasehat agar kita bisa memiliki akhlaq yang mulia karena akhlaq mulia adalah landasan Islam. Ibrahim mengatakan dari ayahnya bahwa ‘Ikrimah berkata, لِكُلِّ شَيْءٍ أَسَاسٌ، وَأَسَاسُ الإِسْلاَمِ الخُلْقُ الحَسَنُ. “Segala sesuatu memiliki landasan (asas). Sedangkan asas Islam adalah husnul khuluq (akhlaq yang luhur).”

Wafat Beliau ‘Ikrimah meninggal dunia di Madinah dalam usia 80 tahun. Beliau meninggal tahun 104 H. Ada pula yang mengatakan bahwa beliau meninggal tahun 105, 106, atau 107 H. Ketika beliau meninggal dunia, manusia pun mengatakan, “Orang yang paling faqih dan paling berilmu telah meninggal dunia.” [Diolah dari Shifatush Shofwah, Ibnul Jauziy, 2/103-105, Darul Ma’rifah, Beirut, cetakan kedua, tahun 1399 H]




Baca Selengkapnya : https://rumaysho.com/700-ikrimah-bekas-budak-yang-menjadi-pakar-tafsir.html

Abu Ismaeel - Hammad bin Zaid bin Dirhm

Abu Ismaeel - Hammad bin Zaid bin DirhmHammad bin Zayd (98 - 179 Hijriri) nama lengkanya Hammad bin Zayd bin Dirhm, budak yang dibebaskan dari keluarga Jareer bin Haazm al-Jahdami. Kunyahnya Abu Ismaeel dan berjulukan al-Azraq. Kampung halamannya adalah al-Basrah. Kakeknya adalah salah satu tawanan Sijistan. Ayahnya, Zayd adalah budak Haazm, abu Jareer. Ketika Haazm meninggal, ia dibunuh oleh putra Haazm, Yazid dan Jareer.

Hammad bin Zayd lahir pada tahun 98 Hijriah. Diriwayatkan dari ibunya bahwa ia lahir selama kekhalifahan Umar bin Abdul al-Azeez, dan diriwayatkan dari bibinya bahwa ia dilahirkan selama kekhalifahan Sulaymaan bin Abdul al-Malik. Pemerintahan Sulayman berlangsung selama dua tahun dan delapan bulan, dari 96 A.H. hingga Safar 99 A.H. Dan kekhalifahan Umar bin Abul al-Azeez berlangsung selama dua tahun dan lima bulan. Ini dimulai delapan hari setelah kematian Sulaymaan dan berakhir pada 101 A.H.

Guru-gurunya - Dia adalah seorang kontemporer dari sebagian besar Tabi'een al-Basra dan lain-lain, di antaranya adalah sebagai berikut:
- Ayyub as-Sakhtiyani; Hammad bin Zayd berkata, "Hammad bin abi Sulaymaan datang ke al-Basrah, tetapi Ayyub tidak mengunjunginya, jadi, kami tidak mengunjunginya. Ketika Ayub tidak mengunjungi seseorang, kami tidak akan mengunjunginya." Yahya bin Ma`een berkata: "Hammad bin Zayd mengenal Ayyub dengan baik." Ayyub meninggal ketika Hammad bin Zayd berusia 34 tahun.
- Zayd bin Dirham (ayahnya).
- Thabit al-Bunani.
- Asim bin abi an-Najood, ia diriwayatkan darinya huroof Qira'at (tilawah berbeda dari Quran).
- Abdullah bin Tawoos.
- Ataa 'bin as-Sa'eb.
- Amr bin Dinar al-Makki.
- Abu Amr bin al-Ala 'An-Nahwi (ahli tata bahasa).
Dan banyak guru lainnya.

Murid-muridnya: Al-Ash`ath bin Ishaq as-Sijistanee (ayah Abu Dawood, penulis Sunan Abu Dawood). - Sufyan ath-Thawri - Abdullah Ibn al-Mubarak - Sufyan bin `Uyaynah - Abdur-Rahman bin Mahdi - Ali bin al-Madini - Qutaibah bin Sa`eed - Wakee` Bin Al-Jarrah - Dan banyak siswa lainnya.

Hidupnya dan pandangan para kritikus pada dirinya:

Ibn Sa`d berkata: "Hammad bin Zayd…. Dapat dipercaya [thiqah], mapan [thabt], dan otoritas [hujjah] (tentang pengetahuan), dan narator dari berbagai hadits."
Imam Ahmad bin Hanbal berkata, "Hammad bin Zayd berasal dari Imam Muslim".
Abu Yaʻla al-Khaleeli berkata, "Hammad bin Zayd ... dapat dipercaya (thiqa). Ada konsensus (berdasarkan pahala dan kepercayaannya). Dia meriwayatkan hadits dalam dua buku hadits shahih (yaitu Shahih Bukhari dan Shahih Muslim). Para imam menyetujui dia ... Dan ada korespondensi antara (Imam) Malik bin Anas dan dia, dan dia biasa mengagumi pendapat Malik. Cucu-cucunya adalah hakim, dan pengikut dari mathhab Maliki (sekolah pemikiran yudisial). "

Abdur-Rahman bin Mahdi berkata, "Imam orang-orang selama masa mereka adalah empat: Hammad bin Zayd di al-Basrah, Sufyaan di al-Kufah, Malik di al-Hijaaz, dan Al-Awza`i di ash-Sham."
Dia juga berkata, "Saya belum melihat siapa yang lebih tahu tentang akidah, dan hadits-hadits yang terkait dengan keyakinan daripada Hammad bin Zayd.
Dia, Abdur-Rahman bin Mahdi, berkata, "Saya belum melihat seorang ahli hukum yang lebih berpengetahuan dari Hammad bin Zayd di al-Basrah."

Yazid bin Zurai` ditanya tentang pendapatnya tentang Hammad bin Zayd dan Hammad bin Salamah: Manakah dari mereka yang lebih berwenang dalam hadits? Dia berkata, "Hammad bin Zayd, dan yang terakhir adalah orang yang saleh."
Sulayman bin Harb berkata, "Aku mendengar Hammad bin Zayd menceritakan hadits dan dia akan mengatakan: Aku mendengarnya lima puluh tahun yang lalu, dan aku belum menceritakannya sebelum hari ini."
Ubayd Allah bin al-Hasan berkata, "Hanya dua Hammad, jadi jika kamu mencari ilmu, carilah dari dua Hammad." Ia berarti Hammad bin Zayd dan Hammad bin Salamah. Keduanya dinarasi dari banyak syekh, dan banyak perawi hadits yang diriwayatkan dari mereka.

Ibn al-Mubarak berkata:
Wahai yang mencari ilmu! ** Pergi dan belajar di bawah Hammad bin Zayd
Anda akan memperoleh kesabaran dan pengetahuan ** lalu merekamnya (yaitu pengetahuan)
Dan hindari inovasi dari ** laporan Amr bin Ubayd

Muhammad bin At-Tabbaa berkata, "Saya jarang melihat seorang pria yang lebih bijaksana daripada Hammad bin Zayd."
Ibn Hibban berkata, "Dia adalah salah satu penghafal yang pandai dan orang-orang yang saleh. Dia biasa membaca semua hadits yang dia ceritakan, dari ingatan. Dan dia buta."
Ibn Hajar berkata, "Hammad bin Zayd ... adalah otoritas yang dapat dipercaya dan ahli hukum. Dikatakan bahwa dia buta. Kebutaannya mungkin terjadi di tahun-tahun terakhir hidupnya karena secara otentik dilaporkan bahwa dia biasa menulis."
Abdur-Rahman bin Mahdi berkata, "Jika Anda melihat seseorang dari al-Basrah yang mencintai Hammad bin Zayd, maka ia adalah pengikut Sunnah."
Adh-Dhahabi berkata, "Saya tidak tahu ada ketidaksetujuan di antara para ulama bahwa Hammad bin Zayd adalah salah satu Imam Salaf [pendahulu yang saleh], dan dari penghafal yang paling mahir, jujur, dan tanpa kesalahan meskipun ia meriwayatkan banyak hadits Semoga rahmat Allah naik

Syu'bah bin al-Hajjaj Ulama Syaikh dari Basra

Syu'bah bin al-Hajjaj - Ulama Syaikh BasraSyu’bah ibn Al-Hajjaj atau Al-Imam Abu Bustham Syu'bah bin al-Hajjaj bin al-Warad al-'Ataki al-Wasithi al-Bashri (Arab: الإمام أبو بسطام شعبة بن الحجاج بن الورد العتكي الواسطي البصري ‎) atau lebih dikenal dengan Syu'bah bin al-Hajjaj (lahir pada tahun 85 H, wafat di Basra pada tahun 160 H) adalah seorang tabi'in, ulama dan syaikh yang berasal dari Basra.

Beliau adalah Syu’bah bin Hajjaj bin Ward Al-‘Ataki Al-Azdi Abu Bistham Al-Wasathi, budak Ubadah bin Al-Aghar budak Yazid Al-Mahlab bin Abi Shafrah. Namun Qa’nab bin Al-Mahrar berkata: “Syu’bah adalah budak dari Al-Jahadhim dari keluarga ‘Atik. Selain itu Muhammad juga berkata: “Syu’bah adalah budak dari Al-Asyaqir yang telah dibebaskan””. Syu’bah lahir pada tahun 80 H, di bawah kekuasaan Abdul Malik bin Marwan. Sedangkan Abu Zaid Al-Harawi mengatakan: “Syu’bah lahir pada tahun 82 H”.

Riwayat hadis

Ia mendapatkan hadis dari: Anas bin Sirin, Ismail bin Raja, Salamah bin Kuhail, Jami' bin Syaddad, Sa'id bin Abi Sa'id al-Maqbari, Jablah bin Sahim, Al-Hakam bin 'Utaibah, 'Amru bin Murrah, Zabid bin al-Harits al-Yami, Qatadah bin Du'amah, Mu'awiyyah bin Qurrah, Abu Hamzah adh-Dhab'i, 'Amru bin Dinar, Yahya bin Abi Katsir, 'Ubaid bin al-Hasan, 'Adi bin Tsabit, Thalhah bin Manshur, al-Minhal bin 'Amru, Sa'id bin Abi Burdah, Sammak bin al-Walid, Ayyub as-Sakhtiyani, Manshur bin al-Mu'tamir, Muhammad bin Sirin

Ia mendengarkan hadis dari: Qatadah, Yunus bin 'Ubaid, Abdul Malik bin 'Umair, Abu Ishaq as-Sabi'i, Thalhah bin Mashraf
Ia meriwayatkan hadis kepada: Ayyub as-Sakhtiyani, Al-A'masy, Muhammad bin Ishaq, Ibrahim bin Sa'ad, Sufyan ats-Tsauri, Syarikh bin Abdullah, Sufyan bin Uyainah

Sifat-Sifatnya - Seperti yang dituturkan oleh Abu Hamzah bin ZiyadAth-Thusi, ia berkata: “Syu’bah adalah seorang yang gagap dan mempunyai kulit yang kering karena banyak melakukan ibadah”.
Dari Abu Bahr Al-Bakrawi, ia berkata: “Aku tidak melihat orang yang kuat beribadah seperti Syu’bah, ia beribadah kepada Allah hingga punggungnya menjadi bongkik dan tidak berdaging”.

Ibadahnya - Dari Abu Bakar Al-Bakrawi, ia berkata: “Aku tidak pernah emlihat seseorang yang lebih kuat beribadah dari Syu’bah, ia beribadah kepada Allah hingga kurus kering, tinggal tulang”.
Dari Umar bin Harun, ia berkata: “Syu’bah berpuasa menahun, dan tidak ada yang mengetahuinya, sedang Sufyan Ats-Tsauri berpuasa tiga hari dalam setiap bulan dan telah diketahui banyak orang”.

Perkataan ulama tentangnya

Ahmad bin Hambal berkata: Tidak ada pada masa Syu’bah orang yang sepertinya dalam bidang hadits dan tidak ada yang lebih baik tentang hal hadits daripadaanya
Imam Asy-Syafi'i berkata: Andaikata tidak ada Syu’bah, orang Irak tidak banyak mengetahui hadits
Sufyan ats-Tsauri berkata: Syu’bah adalah Amirul Mukminin dalam bidang hadits
Shalih Ibnu Muhammad berkata: Ulama yang mau mengatakan tentang hal rijal hadits adalah Syu’bah

Sanjunggan Para Lama Terhadapnya

Abu Abdullah bin Hakim berkata: “Syu’bah adalah pimpinan para ulama haidts yang ada di Bashrah. Syu’bah hidup sezaman dengan Anas bin Malikdan Amr bin Salamah Al-Jarmi. Ia telah mendapatkan hadits dari 400 guru dari generasi tabi’in”.
Abu Abdillah berkata: “Sebagian guru-guru Syu’bah mengambil hadits darinya, mereka adalah Manshur, Al-A’masy, Ayub, Dawud bin Abi Hind dan Sa’ad bin Ibrahim –dia adalah qhadi (hakim)” di Madinah.
Adz-Dzahabi berkata: “Karena kemuliaan Syu’bah imam Malik meriwayatkan hadits dari seseorang dari Syu’bah, yang demikian jarang sekali dilakukan oleh imam Malik”.

Wafat Beliau - Abu Bakar Manjawaih berkata: “Syu’bah Lahir pada Tahun 82 H, dan meninggal pada tahun 160 H, Syu’bah meninggal pada umur 77 tahun.” [Sumber: diringkas dari kitab “Min A’lamis Salaf” karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia : “60 Bigrafi Ulama Salaf”]