• Biografi Tokoh Islam

    Kumpulan Biografi Para Tokoh Islam Ternama dan Sejarah Perkembangan Islam Dunia

  • Biografi Penemu Dunia

    Kumpulan Biografi Para Penemu Terkenal di Dunia dan Sejarah Pertama Penemuannya

  • Biografi Pahlawan Indonesia

    Kumpulan Biografi Para Pahlawan Nasional Indonesia dan Sejarah Perjuangan Indonesia

Showing posts with label Sahabat. Show all posts
Showing posts with label Sahabat. Show all posts

Jubair bin Muth'im ibn Adi dari Klan Nawfal

Jubair bin Muth'im ibn Adi dari Klan Nawfal
Jubayr ibn Mut'im ( Bahasa Arab : جبير بن مطعم ) w. 57H (676/677)  atau 59H (678/679) adalah seorang sahabat nabi Islam Muhammad . Dia menerima Islam setelah awalnya menjadi kafir. Seorang anggota klan Nawfal dari suku Quraisy di Mekah , ia adalah putra Mut'im ibn 'Adi. Ia terkenal karena pengetahuannya tentang silsilah, yang ia klaim telah pelajari langsung dari Abu Bakar.

Hingga 3 sebelum Hijriyyah (620 M), Jubayr bertunangan dengan putri Abu Bakar, Aisha . Pengaturan ini dibatalkan, setelah kematian Khadijah istri pertama Muhammad, demi pernikahan Aisah dengan Muhammad pada bulan Mei atau Juni 620. 

Pada bulan September 622 Jubayr adalah salah satu dari mereka yang terlibat dalam rencana yang gagal membunuh Muhammad. Pada Pertempuran Uhud Jubayr menyuap budaknya Wahshy ibn Harb dengan uang tebusan untuk membunuh Hamzah bin Abdul Muttalib karena Hamzah telah membunuh paman Jubair di Badr.

Dia mengadopsi Islam pada periode antara Perjanjian Hudaibiah (628) dan Penaklukan Mekah (630) dan kemudian menetap di Madinah. Dia memiliki dua putra, Nafi digambarkan sebagai "produktif dalam menjalin tradisi," dan Muhammad,  diduga sebagai "yang paling terpelajar dari kaum Quraish". Namun, kunya , Abu Abdullah, menunjukkan seorang putra lain bernama Abdullah.

Jubair termasuk dalam Isnad dari beberapa hadits.

Dikisahkan Jubayr ibn Mut`im: Ayah saya berkata, "Saya mendengar Utusan Allah melafalkan" at-Tur "(52) dalam shalat Maghrib ." Bukhari. Dikisahkan Jubayr ibn Mut`im: Bahwa ia mendengar Nabi berkata, "Orang yang mencari ikatan kekerabatan tidak akan memasuki Firdaus." Bukhari 

Jubair ibn Mut'im meriwayatkan dari ayahnya yang mengatakan: "Mereka mengatakan kepada saya bahwa saya bangga, sementara saya mengendarai keledai, mengenakan jubah, dan saya memerah susu domba. Dan Rasulullah berkata kepada saya: 'Siapa pun yang melakukan ini , maka tidak ada kebanggaan (kesombongan) pada dirinya. '" Sahih. Tirmidzi

Dikisahkan Jubayr ibn Mut'im: Nabi berbicara tentang tawanan perang Badr yang mengatakan, "Seandainya Al-Mut'im ibn Adi hidup dan menengahi saya untuk orang-orang jahat ini, saya akan membebaskan mereka demi dia." Bukhari

Muhammad ibn Jubayr ibn Mut'im melaporkan pada otoritas ayahnya bahwa seorang wanita bertanya kepada Utusan Allah tentang sesuatu, tetapi dia mengatakan padanya untuk datang kepadanya pada beberapa kesempatan lain, dimana dia berkata: "Apa yang menurut Anda [harus saya lakukan] jika saya datang kepada Anda tetapi tidak menemukan Anda? " dan sepertinya dia bermaksud bahwa dia akan mati. 

Setelah itu dia berkata, "Jika Anda tidak menemukan saya, maka datanglah ke Abu Bakar." Hadits ini telah diriwayatkan atas otoritas Jubayr ibn Mut'im melalui rantai pemancar lain [dan kata-katanya adalah] bahwa seorang wanita datang ke Utusan Allah dan mendiskusikan dengannya sesuatu, dan dia memberi perintah seperti yang kita temukan di atas- narasi yang disebutkan. Muslim

Ayyas bin Abu Rabiah atau Abu Abdurrahman

Ayyas bin Abu Rabiah atau Abu Abdurrahman
Ayyas bin Abu Rabiah yang bernama lengkapnya ‘Ayyas bin Amru bin al-Mughiroh al-Qursy al-Makhzumy. Biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Abu Jahal adalah saudara dari ibunya. Pada awalnya beliau tidak yakin dengan ajaran yang dibawa Rasulullah. Setelah mendengar dan mencermati ajaran Islam dengan seksama akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Kononnya, beliau masuk Islam sebelum Rasulullah pergi ke rumah al-Arqom. Jadi beliau termasuk orang-orang pertama yang meyakini ajaran Islam. Selama berjuang menyebarkan ajaran Islam, beliau bersama istrinya pernah ikut berhijrah ke Habasyah (Ethopia). 

Pada waktu hendak ikut berhijrah ke Madinah, beliau membuat janji dengan Umar r.a. dan Hisyam bin ‘Ash untuk bertemu. Pada waktu yang ditentukan, mereka saling bertemu. Tiba-tiba Abu Jahal ikut dari belakang membuntutinya. Kemudian Abu Jahal berusaha merayunya agar tidak berhijrah ke Madinah. Abu Jahal mencoba membuat tipu daya. Dia katakan bahwa ibunya tidak akan menyentuh rambutnya dengan sisir dan juga menyisirnya hingga melihat ‘Ayyas (anakknya). Mendengar ucapan Abu Jahal, beliau akhirnya bertanya kepada Umar. Umar pun menasehatinya agar tidak usah ikut berhijrah. Tapi dirinya menolak. 

Akhirnya beliau balik ke Mekkah bersama Abu Jahal. Dalam perjalannya, Abu Jahal berusaha menentang dan membelokkan keyakinannya. Beliau ikut dalam barisan orang-orang yang membaiat Rasulullah di bawah pohon yang dikenal dengan nama ‘Bai’ah ar-Ridwan’. Pada waktu perang Hunain, beliau ikut berperang. Begitu juga bersama-sama orang-orang Islam lain berperang melawan kelompok murtad. Beliau membawa bekal dan sejatanya ke tanah Persia untuk menyebarkan ajaran Islam.

Bersama Kholid bin Walid, beliau pindah ke kawasan dekat Rum untuk memberi semangat dan mengkobarkan api perjuangan untuk umat Islam. Dan juga memohon pertolongan Allah agar dijayakan. Hingga pada waktu perang Yarmuk dimana Rum keluar dengan jumlah yang sangat besar yang belum terjadi sebelumnya. Kholid pun sempat kaget dan tercenggang. “Banyak sekali tentara Rum, sementara umat Islam sedikit sekali” kata Kholid. Akhirnya Kholid membalikkan ucapan itu agar umat Islam lebih bersemangat. “Banyak sekali tentara umat Islam, sementara Rum sediki” kata Kholid.

Beliau wafat setelah pulang dari Mekkah akibat luka parah yang diderita pada waktu perang Yarmuk. Diantara orang-orang yang meriwayatkan hadits darinya adalah anaknya; Abdullah dan al-Harits. Juga Nafi’ budak Ibn Umar. Diantara riwayat hadits itu; Rasulullah bersabda; “Umatku akan selalu dalam kebaikan selama mereka masih mengagungkan ‘Ka’bah dan Haram’. Sekiranya mereka enggan, maka binasalah mereka.”(HR.Ibn Majjah)

al-'As atau Abu Jandal bin Suhayl Ibn Amr

Abu Jandal bin Suhail bin Amral-'As ibn Suhayl, yang dikenal sebagai Abu Jandal adalah seorang Sahabi Nabi Muhammad yang adalah orang pertama yang kembali ke Mekah setelah Perjanjian Hudaybiyyah. Dia juga saudara Abdullah ibn Suhayl dan putra orator Quraish Suhayl Ibn Amr.

Ketika Abu Jandal bin Suhail bin Amr memeluk Islam, kaum keluarganya membelenggu dan menyiksanya sehingga ia tidak bisa menyusul Nabi SAW ke Madinah sebagaimana orang Islam lainnya. Suatu saat ia berhasil meloloskan diri melalui bagian bawah kota Makkah, dan menemui orang-orang Islam yang saat itu sedang berada di Hudaibiyah, kedua tangannya dalam keadaan terbelenggu.

Saat itu utusan kaum Quraisy, Suhail bin Amr, yang tidak lain adalah ayah Abu Jandal sendiri, sedang mengadakan pembicaraan dengan Nabi SAW tentang butir-butir Perjanjian Hudaibiyah. Salah satu butir tersebut adalah : Jika seorang lelaki dari Makkah datang kepadamu (Nabi SAW), walaupun ia telah memeluk Islam, maka engkau harus mengembalikannya kepada kami (Kaum Quraisy).

Ketika Suhail melihat kehadiran Abu Jandal, Suhail berkata kepada Nabi SAW, "Hai Muhammad, dia ini adalah orang pertama yang harus engkau kembalikan kepada kami."

Nabi SAW sebenarnya berusaha mempertahankan Abu Jandal dengan dalih perjanjian tersebut belum sampai tahap disepakati, tetapi masih dalam perundingan. Tetapi Suhail tetap berkeras, sehingga akhirnya Nabi SAW merelakan Abu Jandal dibawa kembali ke Makkah. Abu Jandal sempat berkata, "Hai orang-orang Islam, apakah aku akan dikembalikan kepada kaum musyrik, sedangkan aku telah datang kepada kalian sebagai muslim? Apakah kalian tidak melihat apa yang kuderita?"

Tentu saja kaum muslimin sangat tersentuh dengan keadaan tsb. tetapi apa yang telah diputuskan oleh Nabi SAW, itulah hukum yang harus ditaati. Hanya Umar bin Khaththab yang sempat mempertanyakan kepada Nabi SAW, tetapi ia pun akhirnya bisa menerimanya setelah dijelaskan Abu Bakar RA. Nabi SAW hanya bisa menasehati Abu Jandal untuk bersabar.

Berlalulah waktu, seorang muslim lagi, yakni Abu Bashir, lepas dari kungkungan dan siksaan kamu Quraisy dan berlari ke Madinah. Kaum Quraisy mengirim dua utusan ke Madinah untuk menjemput Abu Bashir, dan tidak bisa tidak, karena masih terikat Perjanjian Hudaibiyah, Nabi SAW SAW harus merelakan Abu Bashir dibawa kembali ke Makkah.

Dalam perjalanan tersebut, dengan suatu muslihat Abu Bashir berhasil membunuh salah satu utusan, dan utusan lainnya berhasil lari ke Madinah meminta perlindungan Nabi SAW. Ketika Abu Bashir menghadap Nabi SAW di Madinah, beliau menjelaskan tentang Perjanjian Hudaibiyah dan beliau tidak mungkin mempertahankannya di Madinah. Abu Bashir bisa memahami kesulitan yang dihadapi Nabi SAW, karena itu ia lari ke pesisir menyembunyikan diri.

Beberapa waktu kemudian Abu Jandal juga berhasil lolos dari kaum Quraisy, dan ia mengikuti jejak Abu Bashir menyembunyikan diri di pesisir. Begitulah, setiap ada orang muslim yang lolos dari kaum Quraisy, mereka bergabung dengan Abu Bashir dan Abu Jandal hingga mencapai jumlah satu isbahah (10 - 40 orang). Kelompok yang dipimpin oleh Abu Bashir dan Abu Jandal ini selalu menghadang dan membunuh kafilah dagang Quraiys yang menuju Syam, dan merampas hartanya.

Keadaan itu ternyata menjadi “bumerang” bagi kaum Quraisy, yang akhirnya memaksa orang-orang Quraisy menemui Nabi SAW agar kelompok Abu Bashir dan Abu Jandal ditarik ke Madinah dan tidak mengganggu kafilah-kafilah dagang orang Quraisy ke Syam. Itu artinya mereka sendiri yang berinisiatif membatalkan Perjanjian Hudaibiyah. Dan kelompok Abu Bashir dan Abu Jandal ini akhirnya bergabung dengan Nabi SAW di Madinah.

Pada tahun 16 Hijriyah atau 640 Masehi, negeri Syam pernah diserang wabah virus Tho'un. Wabah Tho'un yang menyerang wilayah Damaskus ini terjadi di masa kekhalifahan Umar bin Khatthab radhiallahu 'anhu (RA). Dalam musibah ini sebanyak 25 ribu orang wafat termasuk sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam (SAW) yang mulia.

Mereka adalah Abu Ubaidah ibnu Al-Jarrah, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, Suhail bin Amr, Abu Jandal bin Suhail, Dhoror bin al Azwar, dan lainnya. Sahabat-sahabat mulia ini adalah penghuni surga sebagaimana dikabarkan Rasulullah SAW.

Ikrimah bin Abu Jahal `Amr al-Makhzoumi

Ikrimah bin Abu Jahal `Amr al-MakhzoumiIkrimah bin `Amr al-Makhzoumi (Arab: عكرمة بن عمرو المخزومي) adalah Sahabat Nabi Muhammad yang juga anak dari Abu Jahal. Ia adalah salah satu dari pemimpin Quraisy ketika terjadi Pembebasan Mekkah. Setelah pembebasan Mekkah pada tahun 630 M, dia memeluk agama Islam. Dalam kepemimpinan Abu Bakar, Ikrimah ikut dalam pertempuran menaklukan Musailamah al-Kazzab. Ia juga ikut dalam pertempuran Yarmuk melawan tentara Romawi dan mati syahid dalam pertempuran itu.

Ayahnya Abu Jahal - Amr bin Hisyām (bahasa Arab: عمرو بن هشام; lahir tahun 570 – meninggal 17 Maret 624 pada umur 53/54 tahun; atau Abu Jahal artinya Bapak Kebodohan) adalah salah seorang pemimpin penduduk Mekkah, yang terkenal akan permusuhannya terhadap kaum Muslim. Ia memiliki anak yang memeluk agama Islam dan diyakini oleh umat Islam sebagai salah seorang syuhada, ia bernama Ikrimah. Amr bin Hisyam mati terbunuh dalam Perang Badar, yang terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah. Abu Jahal telah di catat dalam Al Qur'an sebagai salah satu ahli Neraka Jahannam.

Abu Jahal berbeda dengan Abu Lahab. Abu Jahal bukanlah seorang paman atau kerabat Muhammad tidak seperti Abu Lahab. Muhammad berasal dari Bani Hasyim, sedangkan Abu Jahal berasal dari Bani Makhzum meskipun keduanya berasal dari satu suku yang sama (Quraisy). Abu Jahal juga dikenal sebagai Asadul ahlaf (singa dari kelompok penentang yang telah bersumpah untuk memerangi Islam dan Muhammad). 'Amr bin Hisyam selalu memusuhi Muhammad dan menolak dakwah dan kenabiannya. Oleh karena itu Muhammad menyebut dirinya sebagai Abu Jahal (أبو جهل ') ( "Bapak Kebodohan").

Julukannya adalah "Abu al-Hakam" (ابوالحكم), ( "Bapak kebijaksanaan") karena ia adalah seorang pria yang terenal akan kebijaksanaan dan kecerdasannya sehingga para tetua Quraisy sering meminta bantuannya dalam menghadapi masalah. Bahkan pada usia tiga puluh tahun, ia diundang untuk menghadiri majelis khusus yang diadakan di Dār'un Nadwa, kediaman milik Hakim bin Hazm. Padahal, usia minimal yang diperlukan jika ingin hadir pada pertemuan tersebut adalah empat puluh tahun.

Malik bin Sinan Sahabat Syahid Perang Uhud

Malik bin SinanMalik bin Sinan RA, Sahabat yang Syahid di Perang Uhud - Malik bin Sinan RA adalah seorang sahabat Anshar, ayah dari Abu Said al Khudri RA, seorang sahabat yang banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW. Dalam perang Uhud, keadaan Rasulullah SAW sempat sangat kritis karena diserang kaum kafir Quraisy dari berbagai penjuru, dan hanya tinggal dua sahabat muhajirin yang melindungi beliau sehingga beliau terjatuh dan terluka. Tujuh sahabat Anshar yang sebelumnya ikut melindungi Nabi SAW telah menemui syahidnya satu persatu. Malik bin Sinan termasuk beberapa sahabat (tidak sampai sepuluh orang) yang berhasil membuka “jalan darah” untuk berhimpun di sekitar Rasulullah SAW dalam kondisi kritis tersebut. Mereka ini akhirnya berhasil mengamankan keadaan beliau dari gempuran kaum kafir Quraisy.

Ada bagian dari topi besi yang menancap di kepala beliau, Abu Ubaidah berhasil melepaskannya dengan gigi serinya hingga rompal, tetapi dari luka di kepala Rasulullah SAW itu mengucur darah segar. Segera saja Malik bin Sinan menjilat luka pada kepala Nabi SAW, dengan harapan akan bisa menghentikan, atau setidaknya mengurangi derasnya darah yang mengucur, dan itu berhasil. Setiap kali menjilat dan menghisab darah itu, Malik bin Sinan bukannya membuang atau memuntahkannya, justru ia menelan darah itu, sampai akhirnya darah tidak keluar lagi dari luka-luka Rasulullah SAW. Melihat apa yang dilakukannya, beliau bersabda, "Seseorang yang darahnya menyatu dengan darahku, maka api neraka tidak akan menyentuhnya." Sungguh suatu keberuntungan besar bagi Malik bin Sinan. Dan keberuntungan itu makin lengkap karena ia gugur sebagai syahid di Perang Uhud itu.

Putranya Abu Sa'id al-Khudri (أبو سعيد الخدري) adalah Sahabat Nabi Muhammad dari golongan Ansar. Ia mengajukan diri untuk berperang dalam Pertempuran Uhud pada 625 di mana ayahnya Malik ibn Sinan tewas, ia ikut dalam berbagai pertempuran selanjutnya. Walaupun ia pernah pergi ke Suriah untuk menemui Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tetap penduduk Madinah. Pada Pertempuran Harrah tahun 64/683, ia ikut berperang untuk mempertahankan Madinah dari serbuan tentara Bani Umayyah. Ia disebutkan meninggal pada tahun 63/682, 64/683, 65/684, atau 74/693. Abu Sa'id salah satu perawi hadis yang paling banyak digunakan oleh umat Muslim. Jumlah hadis yang diriwatkan melaluinya berjumlah 1170 hadis, hal ini membuatnya termasuk dalam tujuh orang paling produktif dalam meriwayatkan hadis.